Ikuti Workshop KIP Keamanan Bersosial Media dan Berinternet, ini penjelasan Kasubag Humas | PERUMDA PASAR PAKUAN JAYA
46 | 42 23 Oktober 2019 | Dilihat: 1153 Kali | Cetak

Ikuti Workshop KIP Keamanan Bersosial Media dan Berinternet, ini penjelasan Kasubag Humas


Ikuti Workshop KIP Keamanan Bersosial Media dan Berinternet, ini penjelasan Kasubag Humas

PDPPJKOTABOGOR.COM, Bogor – Aparatur Sipil Negara sebagai bagian dari agen transformasi digital bangsa Indonesia, berkewajiban untuk menerapkan, mengembangkan, dan menyebarluaskan prinsip-prinsip teknologi berbudaya pada masyarakat luas.

Pewakilan dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemerintah Kota Bogor mengikuti workshop Peran budaya keamanan siber pada era keterbukaan informasi publik dalam membangun keamanan bermedia sosial dan berinternet di Hotel New Ayunda, jalan raya puncak Bogor (Selasa, 22 Oktober 2019).

Anton Setiyawan, S.Si., M.M Direktur Proteksi Ekonomi Digital, Badan Siber dan Sandi Negara yang juga menjadi narasumber pada kegiatan workshop tersebut menyampaikan bahwa adanya dua sasaran serangan siber yakni sasaran fisik dan sasaran non fisik. Sasaran fisik sendiri terjadi dalam bentuk malware atau sejenisnya yang menargetkan perangkat keras (hardware) dan lunak (software) dari system siber untuk mencuri, mengubah, merusak ataupun melumpuhkan fungsi pada suatu system elektronik, contohnya serangan siber terhadap system elektronik pada infrastruktur kritis nasional (ESDM, TIK, Transportasi, Pemerintahan, Perbankan dan Keuangan, Kesehatan, Air bersih, Pertanian, Pertahanan dan Industri Strategis, Penegakan Hukum, dan Layanan Darurat). Sementara sasaran non fisik adalah serangan dalam bentuk informasi yang menargetkan kepada psikologis individu/kelompok/masyarakat untuk mengubah opini/motivasi bahkan ideology sesuai dengan yang diharapkan pihak penyerang, contohnya hoax, cuci otak, indoktrinasi dan rekrutmen.

“Adapun lima generasi peperangan hingga saat ini, perang generasi 1 (massed man power) 1648-1860, perang generasi 2 (massed firepower) 1870-1918, perang generasi ketiga (perang dengan maneuver), perang generasi keempat (perang asimetris), perang generasi kelima (perang siber),” ujar Anton.

Dirinya melanjutkan, seperti apa digital footprint (what do yours say?), be careful about: what you share, where you share, and with whom you share. Be smart about: sites you visit, emails you open and links you click. Pesan anton kepada para peserta workshop Be your self but be your best self.

Banyak cara untuk mendeteksi email Phishing, yaitu email yang diterima bukan dari alamat email koorporasi. Jangan percaya link atau attachment yang tidak dikenal. Kata pembuka yang terlalu biasa untuk pesan resmi. Ada kesalahan pengetikan pada pesan. Alamat website dengan tujuan website tidak jelas, terkadang terdapat kesalahan pengetikan. Pesan tambahan yang menekankan situasi seolah-olah darurat, Kontak telepon yang tidak dapat dihubungi.

Di lokasi yang berbeda, Kepala Sub Bagian Humas PDPPJ, Riadul Muslim yang menjadi peserta pada kegiatan workshop tersebut menambahkan, dirinya menjelaskan kembali apa yang di paparkan narasumber tentang hoax jaman sekarang dimana hampir seluruh manusia menggunakan media sosial dalam beraktifitas dan internet tidak pernah lepas dari genggaman, “ada beberapa jenis hoax yang diterima masyarakat dengan tidak di saringnya terlebih dahulu sesuai dengan jumlah persen yaitu lalu lintas sebesar 4 persen, bencana alam sebesar 10.3 persen, candaan 17.6 persen, berita duka 18.8 persen, iptex sebesar 23.7 persen, penipuan keuangan sebesar 24.5 persen, makanan dan minuman sebesar 32.6 persen, kesehatan sebesar 41.2 persen, sara sebesar 88.6 persen, dan hoax yang terbanyak diterima adalah sospol (pemilu dan pemerintah) sebesar 91.8 persen,” ujar Oi sapaan akrab Riadul Muslim.

Sesuai dengan tugas pokok dan fungsi nya (Tupoksi) bagian Hubungan Masyarakat (Humas), dirinya sangat bersyukur bisa belajar bagaimana mengelola konten di Medsos dengan baik. “Saya banyak belajar dari narasumber, salah satunya untuk mengelola konten di medsos dengan baik, yaitu dengan cara menetapkan peran dan tanggung Jawab pada tim (Content Manage, Content Creator, Content Editor), memanfaatkan data personal audiens medsos, menghasilkan ide konten yang sesuai, menentukan jumlah konten yang dibutuhkan, menghasilkan konten yang luar biasa, serta menyiapkan kalender editorial medsos, dan memonitor keefektifan kinerja konten,” katanya.

Adapun prinsip-prinsip teknologi berbudaya, yaitu selalu gunakan budaya bangsa Indonesia baik di dunia nyata maupun dunia maya, kenali dan pahami teknologi, selaraskan dengan kebutuhan, selalu waspada dan berhati-hati dalam interaksi di dunia maya, kembangkan kemampuan literasi digital, dan bangun tata kelola keamanan informasi yang baik,” tutupnya.

(gft)

 

 

 


Author: Admin


Tags:

Bagikan